Soal Pilkada Tangsel, Pengamat: Politik Dinasti Menyakiti Rakyat!

SERPONG, klikbanten.co.id | Konstelasi politik jelang Pilkada Kota Tangerang Selatan (Tangsel) yang akan dihelat pada September tahun ini kian menghangat.

Apalagi, yang menjadi sorotan pada gelaran Pilkada Tangsel adalah munculnya wacana memasangkan Wakil Walikota Tangsel Benyamin Davnie dengan Pilar Saga Ichsan.

Pilar Saga Ichsan adalah putra Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah. Tatu merupakan adik kandung mantan Gubernur Banten Ratu Atut Choisiyah.

Sebagian kalangan, menganggap kehadiran Pilar Saga Ichsan di Pilkada Tangsel tak lain untuk mempertahankan Dinasti Rau, sebutan untuk kepemimpinan keluarga besar almarhum Tubagus Chasan Sochib- di Kota Tangsel.

Terlebih, Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany yang merupakan menantu Haji Chasan, tak bisa lagi mencalonkan diri karena sudah dua periode berturut-turut memimpin kota berjuluk Cerdas, Modern dan Religius itu.

Meskipun hanya diproyeksi jadi orang nomor dua, keluarga besar Haji Chasan tentunya telah mempersiapkan rencana jangka panjang untuk Pilar Saga Ichsan, utamanya di panggung politik Tangsel.

Pengamat Politik UIN Syarif Hidayatullah Zaki Mubarok menilai, kemungkinan politik dinasti yang akan kembali diberlakukan di Tangsel, semuanya bergantung pada Partai Golkar.

Apalagi, Golkar yang digadang-gadang akan mengusung duet Benyamin-Pilar, sampai saat ini belum mengambil keputusan soal siapa calon yang akan diusung.

“Masih belum jelas siapa yang dimajukan Golkar dalam Pilkada Tangsel nanti. Kalau arahnya kembali ke politik dinasti, itu sangat disesalkan,” kata Zaki Mubarok kepada klikbanten.co.id, via WhatsApp, Senin (2/3/2020).

Menurut Zaki, politik dinasti akan berdampak buruk bagi politik dan perekonomian masyarakat. Selain itu, juga dapat merusak prinsip-prinsip demokrasi. “Kemunculan kembali politik dinasti akan sangat menyakiti masyarakat,” tambahnya.

Lalu sebesar apa peluang duet Benyamin-Pilar diusung Golkar, mengingat ibu Pilar, Ratu Tatu Chasanah adalah Ketua DPD Golkar Banten saat ini? Zaki enggan berspekulasi.

“Ya kita tunggu saja perkembangannya. Agak janggal partai (Golkar,red) terbesar mengajukan (Benyamin,red) calon walikota dari kader partai lain (Partai Nasdem),” ucapnya.

Zaki berpendapat, Partai Golkar sebagai partai pemenang Pemilu dengan menguasai mayoritas kursi di DPRD Tangsel, hendaknya melakukan seleksi secara terbuka dan demokratis dalam menjaring bakal calon yang akan diusung.

Adapun kriteria calon bisa dilihat dari integritas, loyalitas, prestasi, dan visioner. “Kalau dilakukan seleksi secara terbuka, Saya kira akan muncul banyak kader Golkar yang siap maju membangun Tangsel,” imbuhnya.

Memutus Mata Rantai Dinasti

Sementara Koordinator Tangerang Public Transperancy Wacth (Truth) Jupri Nugroho mengatakan, munculnya sosok dari keluarga Dinasti Rau pada Pilkada Tangsel nanti, membuktikan bahwa syahwat kekuasaan keluarga yang menjadi sorotan karena beberapa keluarganya tersangkut kasus korupsi ini, sangat tinggi.

“Masyarakat Tangsel harus move on karena sepuluh tahun kota ini dikuasai oleh keluarga itu, namun tidak ada perubahan yang siginifikan. Tentu momentum besok adalah bagaimana masyarakat harus cerdas untuk membalik keadaan untuk memutus mata rantai dinasti,” kata Jupri.

Menurut Jupri, banyak bakal calon yang bebas dari dosa masa lalu dan masih fresh. Dugaan politik uang untuk menggerakkan massa tentu harus dilawan dengan mengkampanyekan demokrasi yang sehat dan terbuka. “Dengan demikian memperkecil ruang gerak keluarga dinasti yang selalu mengkooptasi dengan money politic,” tandasnya.

Sayangnya, bakal calon Walikota Tangsel Benyamin Davnie belum memberikan komentarnya terkait spekulasi yang muncul bahwa dirinya akan berpasangan dengan Pilar Saga Ichsan dalam Pilkada Tangsel.

Beberapa kali dihubungi melalui sambungan telepon, Bang Ben belum merespons. Pesan singkat yang dikirim klikbanten.co.id lewat WhatsApp tak kunjung dibalas.

Sebelumnya, Direktur Pusat Studi Hukum dan Otonomi Daerah Muhammad Kholid Gani menilai, kehadiran Pilar Saga Ichsan dalam bursa Pilkada Tangsel 2020 ini merupakan upaya bagi keluarga Rau untuk memperpanjang usia dinastinya di Tangsel.

Sebab, sepeninggalan Airin yang tak bisa mencalonkan lagi di Pilkada Tangsel (dua periode berturut-turut,red), hampir tak ada figur lain dari Dinasti Rau yang mumpuni untuk tampil sebagai calon walikota.

“Bisa jadi kehadiran Pilar dalam kontestasi Pilkada Tangsel kali ini sebagai upaya mempertahankan dinasti Rau di Kota Tangsel,” ujar Muhammad Kholid Gani kepada klikbanten.co.id, Minggu (1/3/2020).

Menurut Gani, meski belum dominan lantaran Pilar diproyeksi menjadi orang nomor dua mendampingi Wakil Walikota Tangsel Benyamin Davnie yang memastikan diri maju sebagai calon walikota, namun skenario jangka panjang keluarga Rau sudah bisa ditebak.

“Jelas targetnya ke depan walikota. Kalau di momen sekarang ini ya nempel (bersanding,red) dulu dengan Benyamin Davnie. Kalau langsung walikota berat, karena figur Pilar ini belum cukup dikenal di publik Tangsel,” ujarnya. (dra)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seven − 4 =