Polusi Ciwandan, Aktivis Lingkungan: Perusahaan Apatis, DLH Cilegon Diam

CILEGON, klikbanten.co.id | Aktivis lingkungan hidup Kota Cilegon menyayangkan sikap managemen PT Growth Jaya Industry (GJI) yang terkesan apatis atas penderitaan yang dialami warga di lingkungan Kelurahan Kepuh, Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon.

Ya, warga di wilayah tersebut bertahun-tahun hidup di tengah polusi yang ditimbulkan oleh aktivitas PT GJI atau dulu lebih dikenal dengan nama PT Indoferro. Ironisnya, pihak perusahaan hanya menggembor-gemborkan kecanggihan teknologi pengelolaan polusi tanpa memperhatikan fakta yang ada.

Dimana, sebelumnya warga Kelurahan Kepuh, Kecamatan Ciwandan mengeluhkan debu yang ditimbulkan akibat aktivitas PT GJI. Saban hari, mereka harus berjibaku membersihkan debu yang mencemari pekarangan, bahkan masuk ke dalam rumah-rumah warga.

Di sisi lain, pihak PT GJI mengklaim terus berupaya meminimalisasi timbulnya polusi dari aktivitas pabrik pengolahan nikel milik mereka. Bahkan, mereka mengklaim telah menggunakan teknologi yang lebih canggih untuk mengurangi polusi.

“Ini sangat kontradiktif. Perusahaan (PT GJI,red) mengklaim pengelolaan polusi udara sudah lebih baik karena menggunakan teknologi ramah lingkungan, tapi nyatanya warga menderita akibat debu yang ditimbulkan,” kata Ketua LPLHI Kota Cilegon Sahri Mahesa kepada klikbanten.co.id, Jumat (20/9/19).

Sahri pun menilai, kondisi ini tak lepas dari lemahnya pengawasan yang dilakukan Pemkot Cilegon dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon. Sebab, kalau saja DLH melakukan pengawasan secara benar, maka pencemaran lingkungan bisa diminimalisasi.

“DLH jangan diam saja. Ini jelas-jelas di depan mata ada warganya yang menderita, mengapa mereka seolah tidak peka. Apa mereka tidak khawatir dengan kondisi kesehatan warga, terutama anak-anak kecil di lingkungan setempat. Setiap hari mereka harus mengirup polusi industri. Bagaimana dengan masa depan mereka,” tegas Sahri.

Lebih jauh Sahri berpendapat, sekalipun urusan perizinan perusahaan tersebut dominan kewenangan pemerintah pusat dan provinsi, namun Pemkot Cilegon melalui DLH memiliki kewenangan melakukan pengawasan, bahkan penindakan.

“Payung hukumnya kan ada UU 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Ancamannya jelas bagi yang melanggar, pidana penjara paling lama tiga tahun dan denda paling banyak Rp3.000.000.000,” tukasnya.

Lebih jauh Sahri mengaku jika DLH Cilegon tak segera mengambil sikap, maka tidak menutup kemungkinan LBLHI Cilegon akan menempuh jalur hukum dengan melaporkan kasus ini ke Dirjen Gakkum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Terpisah, Kepala DLH Kota Cilegon Ujang Iing memastikan akan menindaklanjuti keluhan warga terkait polusi yang ditimbulkan akibat aktivitas pabrik milik PT GJI.

“Saya akan perintahkan bidang terkait agar turun ke lokasi. Nanti mereka yang akan mengecek secara langsung apakah ada pelanggaran atau tidak. Minggu depan kami turun,” kata Ujang Iing.

Seperti diketahui, warga di lingkungan Kelurahan Kepuh, Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon, bertahun-tahun hidup di tengah polusi yang ditimbulkan oleh aktivitas sejumlah industri di wilayah setempat.

Salah satu persoalan klasik yang dialami warga adalah masalah debu yang diduga ditimbulkan oleh aktivitas PT Growth Jaya Industry (GJI) atau dulu lebih dikenal PT Indoferro.

Lisdawati (35), salah satu warga yang tinggal di RT002/RW001, Kelurahan Kepuh, Kecamatan Ciwandan mengaku persoalan debu yang diduga ditimbulkan akibat aktivitas pabrik milik PT GJI tersebut sudah sangat memprihatinkan.

Setiap harinya, kata Lisdawati, warga yang tinggal di sekitar pabrik pengolah nikel itu berjibaku dengan debu. Bahkan debu seolah jadi ‘makanan’ sehari-hari warga yang jumlahnya mencapai 40 KK itu.

Teh Lis, sapaan akrabnya- mengaku debu yang ditimbulkan cukup membuat warga tidak nyaman. Bahkan, tak sedikit warga sekitar kerap mengalami batuk, sakit tenggorokan maupun gangguan pernafasan.

Ia pun khawatir, polusi udara yang ditimbulkan tersebut bisa berdampak pada kondisi kesehatan anak-anaknya di masa mendatang. Terutama yang masih balita. “Jadi gampang batuk pilek pak. Kasian anak-anak kecil,” imbuhnya.

Sementara, Manager HSE PT Growth Java Industry Ade Alamsyah memastikan, polusi udara atau debu, merupakan cerita masa lalu saat pabrik tersebut masih menggunakan nama PT Indoferro.

Menurutnya, pengelolaan polusi dari pabrik nikel di bawah bendera PT GJI, jauh lebih baik ketimbang yang dilakukan pada masa PT Indoferro.

“Kami rasa polusi udara dan pencemaran sudah berkurang jauh ya. Karena teknologinya sudah berubah. Yang tadinya kami menggunakan blast furnace, sekarang sudah memakai electric furnace. Jadi saya rasa teknologi yang sekarang ini lebih ramah lingkungan,” kata Alamsyah via sambungan telepon. (dra/lai)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 + 8 =