Debu Hitam dari Kebakaran Stock Pile Batubara PT Tereos Cemari Lingkungan

CILEGON, klikbanten.co.id | Warga RT 019 RW 007, Kelurahan Tegal Ratu, Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon mengeluhkan munculnya asap tebal bercampur debu hitam pekat yang berasal dari aktivitas PT Tereos FKS Indonesia, Jumat (3/9/19).

Keluhan tersebut disampaikan langsung Ketua RT 019 RW 007, Dawamurrizqi melalui surat teguran bernomor 006/ST/IX/2019. Dalam surat tersebut, warga merasa terganggu akibat asap tebal bercampur debu hitam pekat yang ditimbulkan dari kebakaran stockpile batubara PT Tereos FKS Indonesia.

“Jadi tadi sekira pukul 12.50 WIB warga melaporkan adanya asap bercampur debu hitam pekat yang mencemari lingkungan warga. Kejadian itu cukup mengganggu aktivitas warga, karena debu tebal masuk hingga ke dalam rumah,” kata Dawamurrizqi saat dikonfirmasi klikbanten.co.id, melalui sambungan telepon.

Bahkan, kata Dawamuri, ada salah satu warung makan yang berada di wilayahnya harus menutup usahanya sementara akibat debu yang timbulkan.

“Ada pemilik warung yang komplain akibat debu yang masuk. Sehingga ada kerugian materi akibat pencemaran debu tersebut, karena tidak ada konsumen yang makan di warungnya,” ucapnya.

Dawamuri memastikan, ia bersama unsur pemuda dan aparat kepolisian setempat langsung mendatangi managemen perusahaan tersebut untuk memintai klarifikasi atas pencemaran lingkungan yang diakibatkan dari terbakarnya batubara di pabrik pengolah tepung jagung tersebut.

“Tadi kami langsung diterima oleh managemen PT Tereos. Ada sekitar enam orang perwakilan warga yang datang. Intinya kami ingin meminta klarifikasi dari pihak perusahaan,” ujarnya.

Dikonfirmasi terpisah, Safety Healt Envorment Manager, PT Tereos FKS Indonesia, Prio Utomo memastikan asap dan debu yang sempat muncul tersebut diakibatkan terbakarnya tumpukan scrap atau besi tua yang posisinya tak jauh dari stockpile batubara.

“Jadi kronologisnya begini. Awalnya ada kebakaran kecil yang muncul dari tumpukan scrab dan kemudian merambat hingga membakar rumput di sekitar. Nah, kebakaran itulah yang memicu kepulan asap,” kata Prio Utomo.

Prio memastikan peristiwan itu baru pertama terjadi. Sebab, kata dia, pemicunya adalah sejumlah kecil batubara yang riject mengeluarkan api dan kemudian membakar tumpukan scrap di sebelahnya hingga menjalar ke rerumputan.

“Di tumpukkan srap itu sepertinya ada campuran karet. Nah, kandungan karet itulah yang memicu kebakaran. Dan ini di luar dugaan kami, karena baru pertama kali terjadi,” bebernya lagi.

Prio mengakui pihaknya membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk memadamkan api dengan peralatan pemadam kebakaran yang dimiliki oleh perusahaan. “Saya bersama tim akhirnya bisa mengantisipasi kebakaran agar tidak meluas,” imbuhnya.

Disinggung apakah perusahaannya tidak melengkapi stockpile batubara dengan alat proteksi kebakaran maupun pencemaran lingkungan? Prio memastikan perusahaannya sudah melengkapi alat proteksi dimaksud.

“Perusahaan kami sudah melengkapi semua fasilitas dimaksud. Dan petugas di lapangan semuanya sudah terlatih untuk mengantisipasi itu semua,” tandasnya. (dra/lai)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × 2 =