Program Bantuan RTLH Banten ‘Mangkrak’, Warga Terpaksa Tidur di Gardu dan ‘Kandang Kambing’

SERANG, klikbanten.co.id | Program bantuan untuk rumah tidak layak huni (RTLH) dari Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) Provinsi Banten Tahun Anggaran 2018 lalu masih banyak yang belum terealisasi.

Di Kampung Lamujan, Desa Pasirwaru, Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang, masih terdapat bangunan rumah yang hingga kini belum rampung pengerjaannya. Bahkan beberapa di antaranya masih berupa pondasi.

Suheli warga Kampung Lamujan, Desa Pasirwaru yang merupakan penerima program RTLH atau biasa disebut ‘Bedah Rumah’ menuturkan, sudah hampir empat bulan rumahnya belum juga rampung.

Bahkan, sejak rumah lamanya dibongkar pada medio November 2018, rumah layak yang ia idamkan itu baru dibangun di awal Maret 2019.

“Artinya selama hampir empat bulan rumah ini belum diapa-apakan sejak dibongkar. Ini juga belum serah terima kunci, karena memang belum selesai pengerjaannya,” tutur Suheli saat ditemui klikbanten.co.id di kediamannya, Kamis (14/3/19).

Jika melihat kondisi rumah berukuran 5×7 m2 yang sudah dihuni Suheli itu, memang tampak sebagian dinding bangunan belum diplester. Hanya bagian depan dan kanan bangunan saja yang diplester.

Sisanya masih terlihat konstruksi bangunan berbahan dasar hebel. “Seharusnya kan sampai pengecatan. Dan lantai juga harusnya disemen halus, bukan seperti ini masih lantai tanah,” tuturnya lagi.

Kondisi yang sama juga dialami Muhtadi. Ia malah menyebut pihak pelaksana pembangunan rumah terkesan tidak bertanggungjawab atas pekerjaannya.

Bagaimana tidak? Sejak bangunan rumah lamanya dibongkar empat bulan yang lalu, ia harus tidur bersama anak isterinya di gubuk reot bikinannya sendiri.

“Ini (rumah,red) baru seminggu ini dikerjakan. Sama seperti yang lain (warga penerima program,red), kondisinya masih seperti ini (mangkrak,red). Malah ada dua rumah yang belum dikerjain, sampai sekarang masih pondasi,” ujar Muhtadi.

Ia bersama warga penerima program lainnya pun berharap pihak DPRKP Provinsi Banten bisa segera menyelesaikan pembangunan rumah mereka agar bisa ditempati secara layak. “Bukan hanya saya, semua warga di sini yang rumahnya dibedah juga berharap yang sama,” tandasnya.

Terpaksa Tidur di Gardu

Kondisi memperihatinkan dialami Hamri yang rumahnya juga baru dibangun awal Maret. Hamri sudah empat bulan terpaksa tidur di gardu bikinan kakaknya. Sejak rumahnya dibongkar empat bulan yang lalu ia tak tahu harus tidur dimana.

Sehingga mau tak mau ia tidur di gardu. Sedangkan tiga anaknya, sementara tinggal di rumah kakaknya. “Kebetulan isteri saya sudah meninggal. Jadi saya tinggal bersama tiga anak saya,” ujar Hamri yang berprofesi sebagai buruh serabutan itu.

Hamri menuturkan, bahan material untuk program bantuan RTLH baru sampai di awal bulan baru bisa dikerjakan. Adapun material yang dikirim berupa batu belah kapasitas satu dump truk, hebel, pasir satu kubik, genteng 1.600 buah, semen 40 sak, pipa paralon serta kusen jendela dua, pintu tiga buah.

Selain itu ada pula kayu kaso 14 batang yang kualitasnya jelek sehingga tidak terpakai. “Akhirnya saya pakai kayu sendiri, karena kayu yang dapat dari kiriman itu kualitasnya jelek, jadi nggak terpakai,” beber Hamri.

Ia mengaku selain dirinya, ada lima warga lainnya yang menerima program tersebut. “Kalau di kampung saya itu total ada enam rumah. Ya kondisinya semua sama, belum tuntas pengerjaannya,” imbuhnya.

Rasman dan Buhari, tukang yang mengerjakan rumah Hamri mengatakan, ia bersama dua tukang lainnya dibayar Rp95 ribu per hari.

Sementara satu orang lagi yang menjadi kernet dibayar Rp85 ribu per harinya. “Target kerja 20 hari kerja. Sampai saat ini kondisinya belum bisa ditempati karena memang bahan materialnya tidak cukup,” ujar Rasman.

Tidur di Sebelah Kandang Kambing

Kondisi yang jauh lebih memperihatinkan dialami Yayat penerima program RTLH lainnya di Kampung Lamujan, Desa Pasirwaru. Rumah yang diimpikan Yayat hingga kini belum dibangun, masih berupa pondasi.

Bahkan, Yayat bersama isteri dan dua anaknya yang masih kecil selama tiga bulan tinggal di gubuk persis di sebelah kandang kambing. Sejak rumahnya dibongkar pada 25 November 2018 lalu ia terpaksa mendirikan gubuk persis di sebelah kandang kambing milik bibinya.

“Kalau sekarang saya tinggal di gubuk sementara di sebelah rumah lama. Nggak kuat pak, tiga bulan tinggal di sebelah kandang kambing. Setiap hari anak saya nangis terus, mungkin karena bau kotoran kambing dan nggak sehat juga,” ujar Yayat.

Ia pun mengaku sejak dibongkar hingga kini, belum ada satu pun dari pihak dinas yang melaksanakan program maupun aparatur Desa Pasirwaru yang datang untuk sekadar mengecek progres pembangunan rumah.

“Ya selama empat bulan ini nggak pernah ada yang nengokin. Jangankan orang dinas, dari desa (perangkat desa,red) juga nggak pernah kesini,” tukasnya.

Tak hanya itu, sistem pengiriman material dilakukan secara bertahap.
Di antaranya semen 40 sak, pasir, kayu serta bahan material lainnya dikirim lebih awal. Sementara bahan utama bangunan yakni hebel baru tiba pada Kamis (14/3/19).

“Untuk semen, dari 40 sekitar 20 saknya sudah membeku karena terlalu lama tidak digunakan. Gimana nggak beku, hebelnya aja baru dateng hari ini, itupun kondisinya banyak yang pecah-pecah. Kalau yang 20 sak lainnya itu kan dipakai untuk bikin pondasi rumah,” bebernya.

Sama dengan warga penerima program lainnya, Yayat pun berharap agar pihak pelaksana program bisa segera merampungkan bangunan rumahnya.

“Ya mudah-mudahan pemerintah bisa menyelesaikan tanggungjawabnya pak. Sampai kapan saya dan keluarga harus tinggal di gubuk sementara ini,” katanya berharap.

Sayangnya, saat akan dikonfirmasi terkait mekanisme pelaksanaan program bantuan RTLH, Kepala Desa Pasirwaru, Abdurrahman sedang tidak berada di tempat. “Pak lurah sedang di luar,” tutur wanita yang mengaku sebagai isteri Abdurrahman tersebut.

Saat klikbanten.co.id mencoba meminta klarifikasi langsung ke pejabat di kantor DPRKP Provinsi Banten terkait realisasi program RTLH di Desa Pasirwaru serta beberapa daerah lainnya, tak ada satupun pejabat setempat yang bisa ditemui.

“Mohon ijin bapak kalau mau klarifikasi bapak langsung aja ke PPK (Pejabat Pembuat Komitmen), Pak Omi (M Rachmat Rogianto, Kabid Perumahan). Saya lagi survei masjid di Gunung Kencana,” ujar Achmad Sahidi selaku Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan DPRKP Provinsi Banten, melalui pesan singkat, Jumat (15/3/19).

Sementara Kepala DPRKP Provinsi Banten M Yanuar pun tak merespons pertanyaan wartawan yang dikirim melalui pesan WhatsApp terkait pelaksanaan program bantuan untuk RTLH tahun 2018 lalu.

1.400 RTLH di Banten

Diketahui DPRKP Provinsi Banten telah menggulirkan program bantuan untuk 1.400 RTLH di Banten. Pembangunannya dilakukan secara bertahap, diawali di Kabupaten Lebak.

Kepala DPRKP Provinsi Banten, M Yanuar mengatakan, sesuai perencanaan, program RTLH di 2018 sudah dialokasikan dan sudah mulai dikerjakan.

“RTLH sudah jalan, dilakukan bertahap. Sekarang Lebak dulu, kemudian Pandeglang, baru Kota Serang dengan Tangerang,” kata Yanuar kepada wartawan di Pendopo Gubernur Banten, KP3B, Kota Serang, seperti dilansir kabarbanten.com, Jumat (27/4/2018).

Ia menuturkan, ada sekitar 400 rumah tangga sasaran (RTS) di Kabupaten Lebak yang saat ini sedang dibangun. Adapun total penerima program bantuan RTLH ada sekitar 1.400 RTS. Masing-masing akan menerima bantuan senilai Rp 50 juta. (dra/lai)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

16 − seven =