Catut Nama Sekda, Kabar GAK Picu Gempa 8 SR Dipastikan Hoax

SERANG, klikbanten.co.id | Imbauan melalui rekaman audio yang mencatut jabatan Sekretaris Daerah terkait potensi gempa dengan kekuatan lebih dari 8 SR yang dipicu oleh letusan Gunung Anak Krakatau (GAK), dipastikan hoax.

Dalam rekaman audio berdurasi 1 menit 34 detik atas nama Andre itu, menyebutkan GAK akan meletus, dan akan terjadi gempa di atas 8 SR, pada hari ini atau beberapa hari ke depan, dengan meminta warga di pesisir untuk waspada.

Dari rekaman audio yang tersebar di media sosial tersebut jelas disebutkan bahwa informasi GAK akan meletus dan memicu gempa berkekuatan lebih dari 8 SR diperoleh dari Sekda Provinsi (tanpa menyebutkan provinsi mana,red) berdasarkan data dari BMKG.

Namun jika dicermati secara seksama, pembuat rekaman tersebut menyebut nama Liwa, Kabupaten Lampung Barat dan Metro. Dua lokasi itu sama-sama berada di Provinsi Lampung.

Bahkan pembuat rekaman itu membandingkan gempa di Liwa dengan kekuatan 6,5 SR dengan potensi gempa yang diakibatkan letusan GAK yang mencapai 8 SR lebih.

“Kalau 6,5 SR Liwa hancur, mungkin kalau 8 SR ini (potensi gempa GAK,red) Metro bisa sampai retak-retak bangunannya,” ujar suara dalam rekaman audio tersebut.

Atas pernyataan yang dianggap menyesatkan ini, dua Sekda yakni Sekda Provinsi Banten dan Lampung sama-sama memberikan klarifikasi. Mereka memastikan bahwa informasi melalui rekaman audio itu tidak benar alias hoax.

Penjabat (Pj) Sekda Provinsi Banten, Ino S Rawita, mengingatkan warga Banten agar tidak mudah percaya atas pernyataan ataupun ungkapan dalam bentuk media apapun. Baik itu rekaman suara, video atau selebaran yang sengaja disebar melalui media sosial ataupun pesan berantai melalui WhatsApp.

Apalagi sumber yang tidak dapat dipercaya dan tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Terlebih, isi pesannya berkaitan dengan akan adanya gempa dan tsunami. “Ini adalah ulah orang iseng yang tidak bertanggung jawab,” ujar Ino dalam siaran persnya, Rabu (2/1/2019).

Kepastian berita bohong tersebut juga disampaikan Sekda Provinsi Lampung, Amartoni. Dilansir sinarlampung.com, Amartoni menyatakan tidak pernah bertemu seseorang bernama Andre, dan tidak pernah menyampaikan info akan adanya gempa berkekuatan dahsyat itu kepada siapapun.

Untuk diketahui, gugusan kepulauan Krakatau, termasuk Anak Krakatau, secara administratif merupakan wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.

Seluruh kawasan kepulauan merupakan kawasan dilindungi secara hukum, sebagai Cagar Alam Krakatau yang dikelola oleh BKSDA (Badan Konservasi Sumberdaya Alam) Lampung Selatan.

Kawasan ini, terutama Pulau Anak Krakatau, memiliki keistimewaan dari sisi ekologi karena menjadi laboratorium alam bagaimana suatu ekosistem membangun kembali dirinya dalam situasi yang relatif terisolasi.

Dari sisi geologi pun kawasan ini juga menjadi tempat pembelajaran yang sangat menarik.

Aktivitas gunung api saat ini dipantau dari dua titik yakni, Pos Pengamatan Carita di sisi Pulau Jawa dan dari Pos Pengamatan Kalianda di sisi Pulau Sumatera.

Selain itu, di beberapa titik Pulau Anak Krakatau juga dipasang beberapa alat pemantau aktivitas vulkanik (meskipun berkali-kali rusak karena aktivitas gunung api yang sangat tinggi). (rls/dra)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × 5 =