Dahsyatnya Sebuah “Pena”

Oleh: Tubagus Baihaqi 

TAHUN 1999 saya menjadi “Pemburu Berita” pada media lokal Banten pertama, yaitu Banten Ekspres.

Di tengah perjalanan saya dan tim ditugaskan untuk membuat isu kontroversial yaitu Banten menjadi provinsi.

Seiring waktu pro dan kontra mulai terlihat, bahkan saya sering dicemooh dan di anggap tidak mungkin karena alasan SDM dan SDA belum mumpuni dan tidak layak oleh para elite, baik tokoh parpol, tokoh masyarakat hingga para pejabat yang ada di Kabupaten Serang dan di wilayah Tanggerang Raya.

Kemudian saya dan tim Banten Ekspres (BE) mewawancara secara ekslusif para tokoh Banten di antaranya, H Chasan Sohib, Triyana Sam’un, Uwes Qorni dan H Embay MS agar memberikan statemen dukungan lapisan masyarakat Banten dan meminta dorongan dan dukungan kepada para parlemen di daerah Banten maupun pusat.

Dimana statmen disampaikan para tokoh tersebut sudah saya format sebelumnya (trik jurnalis supaya statementnya mengarah yang di maksud). Dan hasil wawancara itu kami buat Head Line News dengan judul “Harga Mati Banten Jadi Provinsi”.

Kemudian berita tersebut saya kirimkan melalui paket khusus Kantor Pos (fasilitas yang ada pada saat itu) Saya tetap semangat dan tetap menulis agar keinginan dan cita-cita masyarakat Banten terwujud.

Hingga pada saat Presiden Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur berkunjung ke pondok pesantren Nur El Falah, Kubang, Petir, Serang.

Usai salat Jum’at berjamaah, saya bersama kawan Ibnu PS, menerobos penjagaan Paspampres hanya untuk mewawancarai sang presiden terkait dengan isu pembentukan Provinsi Banten.

Hanya hitungan detik saya bertanya kepada presiden yang kemudian beliau menjawab singkat tapi penuh arti.

“Saya setuju-setuju saja kalau Banten menjadi provinsi lepas dari Jawa Barat, selama SDM dan SDA-nya mampu. Gitu aja kok repot,” ujar Gus Dur dengan gaya nyelenehnya.

Kami buat judul “Presiden Setuju Banten Jadi Provinsi, Gitu Aja Kok Repot”. Seperti biasa berita dan foto sang presiden kami kirim ke Senayan.

Singkat cerita ada respon di kalangan parlemen senayan. Alhamdulillah tim redaksi BE bersama tokoh Banten mendapat undangan resmi dari Ketua DPR RI Akbar Tanjung.

Kami berangkat bersama dengan para tokoh-tokoh Banten menggunakan bus menuju Senayan Jakarta.

Kami disambut oleh mereka. Kami tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mewawancarai Ketua DPR RI dan jajarannya serta, Mendagri Suryadi Soedirja perwakilan Pemerintah RI.

Kemudian informasi tersebut kami sebar kepada masyarakat Banten melalui pemberitaan BE. Hal yang tak terlupakan saat itu, saya dan kawan saya (Ibnu PS dan Saeroji Al Ghaz) tertinggal rombongan pulang karena semangat kami untuk mewawancarai para petinggi perlemen itu.

Kami bingung karena tidak punya uang cukup untuk pulang ke Serang. Di tengah kebingungan itu kami sempat berjalan naik turun lift mengelilingi Gedung Nusantara Senayan Jakarta, persis seperti “Anak Kehilangan Induknya” hehehe!!!

Berjam-jam kami kebingungan dan sempat terlintas dalam fikiran kami untuk meminta uang kepada Akbar Tanjung atau kepada anggota DPR RI yang lain.

Tapi mental kami bukan mental peminta-minta, kami urungkan niat itu, dan kami tetap harus tegar, agar imej kami tidak jelek dengan membawa nama masyarakat Banten.

Demi Banten kami rela menderita itu yang akhirnya kami kuat. Dan syukur alhamdulillah akhirnya kami bertemu dengan H Djahidi anggota DPRD Kabupaten Serang yang sama senasib dengan kami tertinggal rombongan pulang.

Lega rasanya akhirnya kami bersama pulang menggunakan taksi walaupun sampai Tangerang kemudian dilanjut naik bus jurusan Serang.

Singkat cerita, tahun 2000 RUU telah diundangkan menjadi UU No 23 tahun 2000 dan sah tanggal 4 Oktober 2000 Banten menjadi Provinsi di Negara Kesatuan RI (NKRI).

Ironisnya para elite politik yang tidak Pro terhadap perjungan kami justru menjadi petinggi di kursi parlemen Provinsi Banten. Dan banyak eksodus PNS bukan putra-putri Banten yang menjadi pejabat di Pemerintahan Provinsi Banten mungkin hingga saat ini.

Singkat cerita lagi. Dalam UU dan Lembaran Negara RI bahwa Pemerintah Provinsi Banten harus mempunyai pusat pemerintahan. dengan syarat harus berada di wilayah kota.

Maka mulai terjadi perdebatan para tokoh elite, tokoh dan para pemuda Banten membahas Pusat Pemerintahan Provinsi Banten tersebut. Sebagian banyak yang mengusulkan di Tangerang Raya dengan dalih dekat dengan ibu kota.

Karena di parlemen Banten banyak di dominasi perwakilan dari Tangerang. Saya dan kawan-kawan kembali membuat isu agar pusat Ibu Kota Provinsi Banten berada di wilayah Serang dan mendesak para tokoh masyarakat Banten yang ada di Serang untuk membentuk percepatan pembentukan Kota Serang agar Puspemprov Banten berada di Kota Serang.

Hal itu di dukung oleh para tokoh elite, tokoh masyarakat dari Pandeglang, Lebak dan Cilegon agar Kota Serang menjadi Ibu Kota Provinsi Banten. Alhamdulillah tahun pada Oktober 2007 pembentukan Kota Serang terwujud dan menjadi Pusat Pemerintah Provinsi Banten.

Kini sebelas tahun sudah Kota Serang berdiri. Dan sudah memasuki babak baru setelah Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Serang periode 2018 – 2023.

Walikota dan Wakil Walikota terpilih H Syafrudin dan H Subadri Ushuluddin dengan tag line “Aje Kendor” pada 5 Desember 2018 resmi dilantik menjadi Walikota dan Wakil Walikota definitif untuk memimpin Kota Serang.

Semoga Kota Serang menjadi lebih baik lagi. Saya hanya berucap syukur dan berharap kepada pemimpin yang baru ini baik gubernur, bupati dan walikota yang ada di wilayah Provinsi Banten untuk lebih bijak dan adil terhadap masyarakat.

Karena doa masyarakat niscaya akan terkabul oleh Allah SWT. Saya hanya cukup berdoa supaya Banten bisa lebih maju dan dapat bermanfaat untk masyarakat Aamiiin.

Itu saja singkat dari perjalanan hidup saya untuk melawan lupa dan semoga bisa menjadi motivasi dan inspirasi bagi para generasi muda, jurnalis dan para aktivis yang lain. Go Fighting Spirit untuk perubahan yang lebih baik!!!!. (*)

(Penulis adalah wartawan senior di Provinsi Banten dan saat ini menjabat Redaktur Pelaksana pada media online klikbanten.co.id)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

thirteen − 3 =