Pengurangan Poin SKTM Berangus Hak Siswa Miskin

SERANG, klikbanten.co.id | Kepala Inspektorat Provinsi Banten, Inspektur E. Kusmayadi bereaksi atas pernyataan Sekretaris Panitia Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Banten, Tedy Rukman, terkait pengurangan poin bagi siswa pemegang surat keterangan tidak mampu (SKTM).

Meski tak menampik ikut dalam rapat yang memutuskan pengurangan poin SKTM dari 50 menjadi 5 poin, namun Kusmayadi mengaku tidak mengintervensi panitia PPDB dalam mengambil keputusan.

“Bahwa benar saya ada dalam rapat itu, ya benar. Tapi kapasitas saya hanya melihat dan mendengarkan. Saya tidak mempunyai kewenangan apapun dalam rapat itu,” kata E. Kusmayadi kepada klikbanten.co.id, kemarin.

Menurut Kusmayadi, dalam rapat yang dipimpin oleh Ketua Panitia PPDB SMA/SMK Negeri Provinsi Banten Joko Waluyo beserta sekretaris dan para wakil ketua itu, dirinya hanya melaksanakan tugas pokok dan fungsi sebagai unsur pengawasan.

Ia pun kembali memastikan, bahwa dirinya tidak memiliki kewenangan memberi saran atau masukan dalam memutuskan soal pengurangan poin SKTM sebelum diumumkannya hasil PPDB online oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Banten, 2 Juli 2018 lalu.

“Kapasitas saya hanya mengawasi atas kebijakan yang mereka (panitia PPDB, red) ambil. Artinya kebijakan soal pengurangan poin itu mutlak kewenangan panitia,” tukasnya.

Disinggung soal tupoksi Inspektorat yang salah satunya memiliki kewenangan melakukan pencegahan atas kebijakan dinas yang dianggap salah, Kusmayadi mengaku tidak berfikir terlalu jauh.

“Ya saya tidak berfikir kalau dampaknya seperti itu (kuota SKTM tidak terpenuhi akibat pengurangan poin,red). Yang pasti saya ada dalam rapat itu hanya mendengar, mengawasi dan mengawal proses rapat sesuai arahan gubernur,” imbuhnya.

Terpisah, salah satu guru SMA Negeri di Kota Tangerang yang enggan disebutkan namanya mengaku prihatin atas kebijakan yang diambil oleh panitia PPDB terkait pengurangan poin SKTM dimaksud.

Sumber klikbanten.co.id tersebut menyebutkan akibat pengurangan poin tersebut, banyak siswa pemegang SKTM tidak lolos dalam seleksi PPDB yang diumumkan secara online.

“Saya juga bingung kok poin yang diberikan untuk SKTM sangat kecil, cuma lima poin. Tentunya tidak signifikan terhadap passing grade (nilai akademis siswa,red),” ujar sumber tersebut, Sabtu (14/7/18).

Sebagai contoh, ada calon peserta didik pemegang SKTM yang nilai hasil ujian nasionalnya 244,00 jika ditambah poin SKTM 50 poin maka secara otomatis akan lulus seleksi PPDB online.

Namun, lanjut sumber, lantaran adanya pengurangan poin dari 50 menjadi 5 poin, maka calon peserta didik tersebut akhirnya tidak lolos seleksi.

“Kalau nilai totalnya 244,00 ditambah lima poin, ya hanya komanya saja yang bertambah. Sementara sistem di PPDB sekarang nilai total ujian nasional itu dalam angka ratusan. Apakah mereka (panitia PPDB,red) tidak bisa menghitung? Inikan sangat miris, siswa miskin tidak terakomodir karena poin yang diberikan sangat kecil,” ujarnya lagi.

Ia pun berpendapat bahwa selama ini masih ada kesan pengklusteran dalam sistem pendidikan di Provinsi Banten. Pada akhirnya stigma bahwa sekolah negeri hanya untuk masyarakat golongan mampu, semakin benar adanya.

“Sedangkan masyarakat golongan miskin tidak bisa mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah negeri. Karena memang masih ada pengklusteran dalam sistem pendidikan di negara kita,” tandasnya.

Untuk diketahui, dalam PPDB online di SMAN 13 Kota Tangerang sebanyak 236 siswa jalur umum dan zonasi dinyatakan lulus. Ironisnya, dari total siswa yang lulus tersebut, hanya ada 19 siswa pemegang SKTM atau 7,7 persen saja dari kuota 20 persen.

Kondisi serupa juga terjadi di SMAN 3 Kota Tangerang. Bahkan di sekolah ini, dari 267 orang yang lolos seleksi, jumlah siswa pemegang SKTM hanya tiga orang.

Sedangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No.14/2018 mewajibkan sekolah untuk menampung siswa miskin 20 persen dari daya tampung sekolah. (dra/lai)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

six − 5 =