Kisah Si Penjual Gorengan, Rela Ngutang Demi Sertifikat ‘Gratis’

LAPORAN: HENDRA/ ILAIKA

PONDOKAREN, klikbanten.co.id | Ratih (nama samaran,red) harus berjibaku dengan wajan penggorengan dan minyak panas setiap harinya. Itu dia lakukan demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah.

Ya, Ratih adalah salah satu dari sekian banyak penjual gorengan di lingkungan, Kelurahan Pondok Aren, Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Provinsi Banten.

Wanita bertubuh gempal inipun saban hari harus banting tulang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dengan mengandalkan hasil dari menjual gorengan.

Singkat kata, ia mendengar kabar dari tetangganya soal program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) atau sebelumnya biasa disebut Proyek Operasi Nasional Agragria (PRONA).

Kabar tersebut membuat dirinya bisa sedikit lega. Apalagi, yang dia ketahui, pembuatan sertifikat tanah dalam program PTSL tersebut tidak dipungut biaya alias gratis.

Asa pun menghinggapi lubuk hati terdalam untuk memiliki sertifikat tanah. Ratih memang memiliki sebidang tanah pemberian dari orang tuanya. Hingga saat ini, tanah warisan orang tuanya itu belum dibuatkan sertifikat.

“Saya berfikir ini kesempatan untuk membuatkan sertifikat tanah warisan orang tua saya. Apalagi saya dengar gratis, nggak ngeluarin duit seperak budek,” tutur Ratih, saat berbincang dengan klikbanten.co.id beberapa hari lalu.

Namun asa itu sedikit sirna. Ia mendengar kabar bahwa setiap warga yang ingin mendaftarkan tanahnya untuk mendapatkan sertifikat PTSL dari BPN Kota Tangsel, harus menyiapkan dana yang nilainya bervariatif, tergantung luas tanah.

Terlebih saat ia mencoba mendaftarkan tanahnya melalui salah satu ketua RT di Kelurahan Pondok Aren, berkas yang diajukannya berupa Akte Jual Beli (AJB) ditolak. Alasannya, dokumen surat-surat tanahnya diklaim tidak memenuhi syarat.

Kagak bisa katanya, alasannya surat-surat tanahnya masih nyampur atas nama bapak saya, ini kagak bisa,” kata Ratih.

Atas kabar tersebut, Ratih pun sempat merasa pesimistis jika tanah warisan orang tuanya itu bisa memiliki sertifikat gratis dari Pemerintahan Jokowi.

Namun belakangan, salah satu warga bernama Doni mendatanginya dan menjanjikan bisa mengurus surat-surat tanahnya untuk didaftarkan dalam program PTSL itu.

Doni yang menurut Ratih merupakan anak mantan ketua RT di wilayahnya itu, lalu menyampaikan bahwa untuk mengurus sertifikat gratis tersebut ia harus menyiapkan uang Rp4,5 juta untuk luas tanahnya lebih dari 200 meter persegi.

Mendengar pernyataan yang disampaikan Doni tersebut, Ratih kemudian memutar otak untuk mendapatkan uang sebesar itu. Bahkan ia rela menepis rasa malu dengan meminjam uang ke tetangganya.

“Kata Doni saya harus nyiapin uang Rp4,5 juta. Katanya (uang,red) untuk ke Lurah juga. Ya terus terang saya kagak punya uang. Tapi demi surat, ya saya tahan minjem-minjem (berhutang,red),” ungkap Ratih, dengan logat khas betawi.

Ratih pun tak punya pilihan lain. Meski ketua RT setempat kerap menyuarakan kepada warga bahwa program tersebut sejatinya gratis, namun kenyataannya tetap dipungut biaya.

“Katanya pemutihan, gratis, ini kok dimintai segitu. Alasannya berkas saya nggak memenuhi syarat. Tapi ya sudahlah, saya sudah setorkan separonya, Rp2,5 juta. Sisanya (Rp2 juta,red) nanti dibayar setelah sertifikatnya jadi,” cetusnya.

Ratih pun kini hanya berharap agar sertifikat tanah yang dijanjikan tersebut segera sampai di tangannya. Kini ia pun harus kembali berjuang untuk menyiapkan sisa uang yang belum dibayar untuk pengurusan sertifikat tanahnya tersebut.

“Ya tinggal pusing mikirin sisanya lagi nih. Kemarin aja minjem (hutang,red), nanti nggak tau dari mana lagi dah,” imbuhnya dengan mimik wajah bingung.

Sayangnya, hingga berita ini diturunkan belum ada klarifikasi resmi dari pihak kelurahan setempat. Lurah Pondok Aren, Munadi yang dihubungi melalui pesan WhatsApp belum memberikan tanggapan soal ini.

Munadi hanya menyampaikan bahwa ia belakangan ini tengah disibukkan dengan agenda rapat. “Ya….lagi sibuk rapaat..mllu (melulu,red)..nih,” ujarnya, singkat, Senin (23/4/18) malam.

Dari informasi yang dihimpun, tahun ini Kelurahan Pondok Aren mendapatkan kuota program PTSL sebanyak 2.000 bidang tanah. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five + 5 =