Airin Dilaporkan ke Kejari, DLH Bantah TPA Cipeucang Cemari Cisadane

SERPONG, klikbanten.co.id | Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) membantah tudingan Yayasan Peduli Lingkungan Hidup (Yapelh) terkait dugaan pencemaran Sungai Cisadane.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLH Kota Tangsel Yepi Surahman berdalih, bahwa sampah-sampah yang terbawa arus lantaran Sungai Cisadane mengalir dari hulu ke hilir dan melewati beberapa daerah, seperti Bogor, Cisauk dan lainnya.

“Kemungkinan sampah-sampah tersebut terbawa ke sungai (Sungai Cisadane,red),” kata Yepi Surahman kepada klikbanten.co.id melalui pesan singkat, Selasa (27/2/18).

Menurut dia, pengelolaan sampah di TPA Cipeucang dilakukan dengan cara Sanitary Landfil. Sedangkan untuk air leachid (sampah) ditampung di kolam leachid.

“Adapun pemanfaatan gas metan, kita salurkan ke beberapa rumah warga sebagai bahan bakar di dapur,” tambahnya.

Terkait jarak antara TPA Cipeucang dengan bibir Sungai Cisadane, Yepi memastikan bahwa jarak dari batas landfil ke sungai sekitar 50 meter.

“Jadi kemungkinan kecil sampah dari TPA terbuang ke sungai,” kilahnya. Pihaknya juga mengaku tengah berusaha semaksimal mungkin dalam pengelolaan sampah di TPA Cipeucang.

“Kita juga sedang merancang tahapan untuk pengelolaan menggunakan teknologi,” tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, Walikota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany dilaporkan ke Kejaksaan Negeri Kabupaten Tangerang, Senin (26/2/18).

Pelapornya adalah Yayasan Peduli Lingkungan Hidup (Yapelh). Airin dilaporkan atas dugaan pencemaran serta pengrusakan lingkungan hidup yang bersumber dari TPA Cipeucang Kota Tangerang Selatan.

Direktur Yapelh, Uyus Setia Bakti mengatakan, dasar pelaporan Airin bermula dari hasil investigasi yang dilakukan pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Cisadane pada Kamis (08/02/2018). Investigasi dilakukan saat air Sungai Cisadane meluap.

“Hasil investigasi kami menemukan bahwa sumber sampah yang selama ini mengambang di Sungai Cisadane itu sumbernya yakni dari TPA Cipeucang,” kata Uyus Setia Bakti kepada wartawan, saat ditemui di Kejaksaan Kabupaten Tangerang, Senin (26/02).

Menurut Uyus, sampah-sampah yang turun hingga mencemari sungai disebabkan letak TPA Cipeucang yang sangat berdekatan dengan bibir Sungai Cisadane, yakni hanya 20-30 meter.

Parahnya lagi, lanjut Uyus, di lokasi TPA tidak ada dinding pembatas antara TPA dan bibir sungai. Sehingga ketika air sungai meluap, sampah-sampah tersebut terbawa arus sungai terbesar di wilayah Tangerang Raya (Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang dan Kota Tangsel) itu.

Tak hanya itu, sambung Uyus, TPA Cipeucang juga tidak maksimal dalam pengelolaan air lindih (air yang keluar dari tumpukan sampah, red). Banyak ditemukan air lindih dari TPA Cipeucang yang langsung mengalir ke Sungai Cisadane tanpa melalui proses Instalasi Pengelolaan Limbah (IPAL).

Uyus pun menuding selama ini Pemkot Tangsel telah melanggar Undang-undang No.18/ 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan Undang-undang No 32 tahun 2009 tetang Lingkungan Hidup. (dra)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × three =