OTT Oknum Pegawai Pasar Cilegon, Polres Cilegon Masih Enggan Memberikan Keterangan

CILEGON, KLIK BANTEN | Kasus operasi tangkap tangan (OTT) kembali terjadi di Kota Cilegon, Banten. Kali ini satu oknum pegawai Unit Pelayanan Teknis Dinas (UPTD) Pasar Blok F, Kelurahan Ciwaduk, Kecamatan Cilegon tertangkap oleh petugas Tim Saber Pungli Satreskrim Polres Cilegon, Selasa (17/10/2017 ).

Berdasarkan dari hasil informasi yang didapat, oknum pegawai yang ditangkap berinisial D. Pria tersebut diamankan oleh tiga orang petugas Satreskrim Polres Cilegon sekitar pukul 08.00 WIB.

Saat itu D diduga sedang melakukan pungutan liar (Pungli) kepada sejumlah para pedagang yang berada di dalam lokasi pasar. Melihat kejadian tersebut, petugas pun langsung mengamankan oknum itu.

“Satu orang diamankan oleh pihak kepolisian. Ada tiga orang dari Polres Cilegon yang mengamankannya. Waktu ditangkap dia lagi meminta uang salar kepada pedagang yang ada di dalam pasar,” ungkap salah seorang narasumber yang tidak mau disebutkan namanya saat ditemui sejumlah awak media di Mapolres Cilegon, Banten.

Setelah berhasil mengamankan oknum tersebut, petugas pun kemudian langsung menggelandang pelaku ke Mapolres Cilegon. Bahkan sejumlah pegawai UPTD Pasar Blok F pun turut dimintai keterangan atas insiden tersebut. “Itu sebenarnya pungutan resmi dan mintanya juga pake seragam, tetapi memang pas mungut uang tidak pake karcis,” ungkapnya.

Terkait kasus OTT ini belum ada keterangan resmi dari pihak Polres Cilegon. Kasat Reskrim Polres Cilegon, AKP Dadi Perdana Putra, hingga kini masih belum bisa memberikan jawaban saat sejumlah awak media melakukan konfirmasi melalui via sambungan telepon.

Sedangkan, ditempat terpisah, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Cilegon, Tb Dikrie Maulawhardana membenarkan adanya insiden tersebut. Namun demikian, ia mengaku belum mengetahui persis alasan oknum yang bersangkutan ditangkap petugas.

“Saya masih belum dapat informasi lebih lanjut terkait kasus itu, karena semua masih diperiksa di Polres. Kalau kolektor itu pasti membawa karcis, wajib. Itu adalah retribusi pelayanan pasar, itu ada perdanya kok,” ujarnya. (03/Dedi/Red).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × 5 =