KPK Bakal Periksa Plt Walikota Cilegon, Edi Ariadi Terkait Dugaan Suap Transmart Cilegon

JAKARTA, KLIK BANTEN | KPK akan mengagendakan pemeriksaan terhadap Plt Walikota Cilegon, Edi Ariadi. KPK akan memeriksa Edi dalam penyidikan tindak pidana korupsi dugaan suap terkait pengurusan perizinan pembangunan Transmart di Kota Cilegon, Banten.

“Yang bersangkutan akan  diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Tubagus Donny Sugihmukti,” kata Pelaksana Harian (Plh) Kepala Biro Hubungan Masyarakat KPK, Yuyuk Andriati di Jakarta, Jumat (13/10/2017), kemarin.

Edi Ariadi saat ini juga sudah menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Cilegon, pasca-Wali Kota Cilegon, Tb Iman Ariyadi dinonaktifkan karena sudah ditetapkan sebagai tersangka terkait kasus tersebut.

Selain akan memeriksa Edi Ariadi, KPK juga akan ikut memeriksa tiga saksi lainnya untuk tersangka Tubagus Donny Sugihmukti dalam kasus yang sama.

Tiga saksi itu, yakni Ajudan Wali Kota Cilegon Firman, Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Cilegon, Ujang Iing, dan Staf PT Brantas Abipraya, Yohana Vivit.

Dalam penyidikan kasus tersebut, KPK baru saja ikut memperpanjang masa penahanan untuk empat tersangka, yaitu Wali Kota Cilegon nonaktif Tubagus Iman Ariyadi, Kepala Badan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal Kota Cilegon, Ahmad Dita Prawira, Hendry seorang wiraswasta, dan Project Manager PT Brantas Abipraya, Bayu Dwinanto Utomo.

Perpanjang penahanan itu dilakukan mulai 13 Oktober sampai 21 November 2017 mendatang.

KPK saat ini juga tengah mendalami aliran dana dugaan suap terkait pengurusan perizinan pembangunan Mall Transmart di Kota Cilegon tersebut.

“Kami terus mendalami lebih lanjut terkait dengan informasi aliran dana terkait proses perizinan disana, secara umum itu yang akan kami dalami. Selain itu, tentu saja pada proses perizinannya juga kami akan ikut dalami,” ucap Juru Bicara KPK, Febri Diansyah.

KPK telah menetapkan Wali Kota Cilegon, Tubagus Iman Ariyadi, Kepala Badan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal Kota Cilegon, Ahmad Dita Prawira dan perantara penerima suap Hendry dari pihak swasta sebagai tersangka penerima suap.

Ketiganya telah disangkakan dengan Pasal 12 huruf a atau pasal 12 huruf b atau pasal 11 UU No 31 Tahun 1999 yang diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Tersangka pemberi suap adalah adalah project manager PT Brantas Abipraya, Bayu Dwinanto Utomo, Direktur Utama PT Krakatau Industrial Estate Cilegon, Tubagus Donny Sugihmukti dan legal manager PT Krakatau Industrial Estate Cilegon, Eka Wandoro.

Mereka juga telah disangkakan pasal 5 ayat 1 huruf atau huruf b atau pasal 13 UU No 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Dalam OTT terkait kasus tersebut, total KPK mengamankan uang tunai senilai Rp 1,152 miliar, yaitu terdiri dari Rp 800 juta yang berasal dari PT Brantas Abipraya (AB) dan Rp 352 juta yang merupakan hasil sisa uang Rp 700 juta yang berasal dari PT KIEC.

Iman juga diketahui sempat meminta uang sebesar Rp 2,5 miliar, namun akhirnya disepakati sebesar Rp 1,5 miliar dengan rincian Rp 800 juta berasal dari PT AB dan Rp 700 juta berasal dari PT KIEC yang sudah ditransfer ke rekening Cilegon United Football Club untuk bisa menyamarkan penggunaan uang sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan alias corporate social responsibility (CSR).

Sedangkan, PT Brantas Abipraya adalah badan usaha milik negara (BUMN) selaku pengembang untuk membangun mall Transmart di lahan milik PT Krakatau Industrial Estate Cilegon, yang tak lain merupakan anak perusahaan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk.

PT Brantas Abipraya pun pernah terjerat oleh KPK dalam kasus suap kepada Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta, Sudung Situmorang dan Asisten Tindak Pidana Khusus Kejati DKI Jakarta, Tomo Sitepu.

Dalam kasus tersebut, Direktur Keuangan dan Human Capital PT Brantas Abipraya, Sudi Wantoko divonis tiga (3) tahun penjara, sedangkan Senior Manager PT Abipraya divonis dua (2) tahun penjara. (Dedi/Red).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 + 5 =