Adik-Kakak Tersangka Kasus Korupsi Dijebloskan ke Penjara

SERANG, KLIK BANTEN | Pihak Jaksa Penuntut dari Kejaksaan Negeri Serang telah memutuskan untuk menahan tiga bersaudara yakni Yuliana (35), Imam Sutanto (38) dan Agus Baehaki (28). Ketiganya diketahui telah terjerat kasus dugaan korupsi Dana Desa (DD) di Desa Tamiang, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Serang tahun 2015 senilai Rp 636 juta lebih.

Kasus yang telah menjerat kakak beradik ini terjadi, ketika masa transisi kepemimpinan Kepala Desa Tamiang dari Imam Sutanto kepada Muntomi. Yang merupakan mantan Kepala Desa Tamiang, Imam Sutanto (38) mendapat kabar bahwa bantuan dari pemerintah pusat dari alokasi dana desa, bagi hasil pajak daerah, dan bagi hasil retribusi daerah telah diketahui ditransfer ke Kas Desa Tamiang.

Mendapat kabar tersebut, Imam langsung memerintahkan adiknya Agus Baehaki (28) yang juga menjabat sebagai anggota BPD Tamiang dan Pjs Kepala Desa Tamiang, Yuliana untuk bisa menarik dana desa tahap pertama sebesar Rp 326 juta.

Mendapatkan perintah itu, keesokan harinya, tanggal 14 Agustus 2015, Agus yang juga.ikut ditemani oleh Yuliana melakukan penarikan dari Bank Bjb Cabang Serang. Oleh para tersangka, uang tersebut tidak langsung digunakan sebagaimana telah diperuntukannya. Dalam rencana awal dana desa tersebut, dialokasikan untuk membangun Kantor Desa Tamiang.

“Tetapi pada kenyataannya, uang tersebut malah digunakan untuk membeli kendaraan Mitsubishi Strada,” Kata Kasie Pidsus Kejari Serang, Agustinus Olav Mangontan yang juga ikut didampingi oleh Jaksa Penuntut Subardi di Kejari Serang, Kamis (5/10/2017).

Sedangkan, dari hasil audit pihak BPKP Perwakilan Banten, ditemukan kerugian negara sebesar Rp 220 juta lebih. “Karena memang sudah dilakukan tahap dua, maka kami memutuskan untuk langsung menahan ketiganya,” kata Olav.

Tersangaka Imam Sutanto (38) dan Agus Baehaki (28) diketahui telah dijebloskan ke Rumah Tahanan (Rutan) Kelas 2B Serang. Kedua tersangka akan menjalani masa penahanan hingga 20 hari kedepan. Sementara untuk Yuliana (35) diketahui hanya berstatus sebagai tahanan kota saja. “Alasan kami karena pertimbangan kemanusiaan, karena yang bersangkutan tengah mengandung usia 3 bulan,” imbuh Olav.

Berdasarkan dari hasil pantauan di lokasi, kedua tersangka langsung digiring untuk memasuki mobil tahanan Kejari Serang. Keduanya sempat melempar senyum kepada para awak media yang tengah melakukan peliputan. Bahkan, sebelum meninggalkan kantor Kejari Serang, kedua tersangka sempat mengacungkan dua jari seraya narsis ketika berada di dalam mobil tahanan menuju Rutan Serang.

Sedangkan, dari keterangan penasehat Hukum ketiga tersangka, Sri Rahayu menilai proses yang telah menimpa kliennya memang sudah sesuai dari prosedur. “Karena dari awal kami yang diminta untuk mengawal. Supaya cepat disidangkan dan mempunyai kekuatan hukum tetap agar para tersangka bisa mendapatkan rasa keadilan dan tidak gamang dan terkatung-katung lagi statusnya,” kata Sri.

Terkait mengenai tudingan yang telah dialamatkan kepada kliennya, Sri membantah bahwa uang tersebut digunakan untuk membeli mobil. “Itu merupakan untuk membangun kantor desa. Bahan bangunannya juga sudah ada kan, pondasinya juga sudah ada,” kata Sri.

Kalau untuk mengenai uang kerugian negara, Sri menambahkan kliennya juga sudah berusaha untuk bisa  mengembalikannya. “Baru si Ibu (Yuliana) itu aja yang memberikan jaminan (sertifikat) sebidang tanah atas penahanan kotanya. Yang lainnya hingga kini masih belum,” pungkasnya. (Dedi/red).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × five =