Mari Sukseskan Gerakan Konsumsi Pangan B2SA Berbasis Sumber Daya Lokal

KLIK BANTEN | Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Banten bekerjasama dengan TP PKK Provinsi Banten menyelenggarakan kegiatan lomba cipta menu beragam, bergizi seimbang dan aman (lcm-B2SA) berbasis sumber daya lokal. Kegiatan yang berlangsung pada tanggal 28 September 2017 di RM Sambara Kota Serang, itu diikuti oleh delapan TP PKK tingkat kabupaten/kota Se Provinsi Banten.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Banten, Dr. Moh. Ali Fadillah dalam sambutannya memberikan apresiasi  kepada ibu ketua tim penggerak PKK Provinsi Banten beserta para pengurusnya terutama pokja III yang telah bekerjasama pada program percepatan penganekaragaman konsumsi pangan dalam menunjang ketahanan pangan yang dalam hal ini melalui lcm B2SA yang pelaksanaannya dilakukan secara berjenjang dari tingkat kabupaten/kota, provinsi dan selanjutnya akan diikutsertakan pada ajang serupa di tingkat nasional.

Dikatakan Ali Fadilah, dengan dilaksanakannya program percepatan penganekaragaman konsumsi pangan diharapkan dapat dijadikan sebagai upaya mempercepat program penurunan konsumsi beras 1,5% per tahun dan peningkatan konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal yang tersebar di Provinsi Banten serta mempromosikan berbagai bahan pangan lokal dan olahannya yang berasal dari non beras dan non terigu kepada masyarakat untuk dijadikan pangan pilihan sebagai sumber karbohidrat.

“Dengan  diadakannya lomba cipta menu ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam rangka implementasi peraturan presiden no 22 tahun 2009 dan peraturan gubernur nomor 9 tahun 2010 tentang percepatan penganekaragaman konsumsi pangan,” katanya.

Menurut Ali Fadilah, ajang lcm B2SA juga dapat dijadikan sebagai tempat pembelajaran bagi masyarakat dalam menentukan pilihan-pilihan makanan yang memenuhi syarat gizi bagi keluarga sesuai kebutuhannya, sehingga diharapkan kondisi kekurangan gizi terutama pada balita, ibu hamil, dan ibu menyusui dapat dieleminir, dengan demikian  balita  kita menjadi anak yang sehat, cerdas dan berkualitas begitu pula dengan orang dewasa yang harus tetap sehat aktif dan produktif.

Sebagaimana kita ketahui dalam undang-undang no. 18 tahun 2012 tentang pangan mengamanatkan bahwa penganekaragaman pangan sebagai upaya untuk meningkatkan ketersediaan pangan yang beragam dan yang berbasis sumber daya lokal, ditujukan untuk:

1) memenuhi pola konsumsi pangan beragam, bergizi seimbang, dan aman; 2) mengembangkan usaha pangan; dan 3) meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Upaya percepatan diversifikasi konsumsi pangan menjadi penting untuk dilaksanakan, mengingat pola konsumsi pangan penduduk indonesia sampai saat ini masih menunjukkan kecenderungan kurang beragam dari jenis pangan dan keseimbangan gizinya, yang ditunjukkan oleh pencapaian skor pola pangan harapan (pph). Pola pangan harapan (pph) adalah susunan beragam pangan yang didasarkan atas proporsi keseimbangan energi dari sembilan kelompok pangan dengan memertimbangkan segi daya terima ketersediaan pangan, ekonomi, budaya dan agama. Data pola pangan harapan (pph)  dari tahun 2014 – 2016 kecenderungan meningkat masing-masing 80,7, 84,5 dan 85,7 namun masih jauh dari  skor ideal 100.

“Konsumsi pangan masyarakat banten masih didominasi oleh beras, padahal berbagai sumber umbi-umbian cukup melimpah namun belum banyak dimanfaatkan, hal ini mengakibatkan rendahnya harga jual jenis umbi-umbian, sehingga para petani kurang mendapatkan keuntungan dan belum dapat meningkatkan kesejahteraannya,” ungkap Ali Fadilah.

Padahal kondisi saat ini, lanjut Ali Fadilah, lahan untuk menanam padi semakin kurang seiiring dengan era pembangunan, kebutuhan beras yang menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia tentu perlu diubah dengan cara mengenalkan dan menyarankan masyarakat untuk mengkonsumsi selain beras seperti jagung, umbi-umbian, singkong dan umbi lainnya. Selain mengkonsumsi sumber karbohidrat, perlu juga ditingkatkan konsumsi sumber protein dan sumber vitamin dan mineral, sehingga dengan terpenuhinya konsumsi pangan dari semua sumber zat gizi maka akan mempertahankan tubuh kta tetap sehat dan  produktif.

Berdasarkan data Susenas 2014,  konsumsi beras di Provinsi Banten  sebesar 109,2 kg/kap/thn dan pada tahun 2016 menurun menjadi 101,7 kg/kap/tahun namun pada tahun 2016 menunjukkan kenaikan menjadi 106,7 kg/kap/tahun. Sementara konsumsi umbi-umbian provinsi banten dari tahun 2014-2016 terdapat peningkatan masing-masing  sebesar 6,5 kg/kap/th, 9,2 kg/kap/thn dan 10,8 kg/kap/thn.

Sementara konsumsi terigu dari tahun 2014-2016 terdapat peningkatan masing-masing  sebesar 12,7 kg/kap/th, 16,5 kg/kap/thn dan 15,4 kg/kap/thn.  Seharusnya konsumsi beras dan terigu diturunkan  dan konsumsi uumbi-umbian ditingkatkan.

“Ketahanan pangan menjadi salah satu variabel strategis dalam pembangunan ekonomi nasional yang masih perlu mendapat perhatian. Pembangunan ketahanan pangan dilaksanakan untuk menjamin ketersediaan, distribusi dan konsumsi pangan yang cukup, beragam, bergizi seimbang dan aman sampai ke tingkat individu di seluruh wilayah indonesia, sepanjang waktu dengan memanfaatkan sumber daya, kelembagaan dan budaya lokal,” katanya.

Dalam sambutannya, Ali Fadilah juga mengajak kepada peserta kegiatan untuk berkomitmen mendorong dan memantapkan pelaksanaan penganekaragaman konsumsi pangan di Provinsi Banten dengan cara meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal yang ada disekitar tempat tinggalnya masing – masing.

“faktor penentu mutu makanan adalah keanekaragaman jenis pangan, keseimbangan gizi dan keamanan pangan oleh sebab itu perlu adanya upaya untuk menyajikan pangan-pangan olahan yang aman untuk dikonsumsi  yang berasal dari pangan lokal sehingga dapat meningkatkan citranya serta adanya upaya untuk mengurangi penggunaan beras dan tepung terigu dalam mengolah pangannya agar produk-produk pangan lokal dapat dimanfaatkan dan dijadikan makanan yang memiliki cita rasa tinggi melalui seni kuliner,” katanya.

Dijelaskan oleh Ali Fadilah, Pemerintah Provinsi Banten sudah menerbitkan intruksi gubernur nomor 2 tahun 2016 tentang penggunaan bahan baku pangan berbasis sumber daya lokal pada acara pertemuan, rapat, sosialisasi, pelatihan dan kunjungan lapangan.

“Pangan lokal banyak membawa manfaat bagi tubuh kita karena merupakan makanan fungsional untuk kesehatan, disamping  banyak mengandung sumber zat gizi juga terdapat  anti oksidan serta indeks glikemiknya rendah  yang dapat menghindari dari berbagai penyakit degeneratif seperti  kanker, diabetes dan penyakit tidak menular lainnya,” katanya.

Agar makanan yang disajikan aman dan layak untuk dikonsumsi maka penanganannya harus dimulai dari bahan bakunya yang bebas dari pestisida, tidak menambahkan bahan-bahan seperti pewarna yang tidak diperbolehkan antara lain  rodhamin b yang berwarna merah dan metanyl yellow yang berwarna kuning, bleng (pijer), formalin dan boraks ke dalam makanan begitu juga penggunaan pemanis seperti sakarin, siklamat, aspartam  harus sesuai dengan takaran  dengan ambang batas yang telah ditentukan

Dengan demikian manfaat dan hasilnya dapat dirasakan oleh masyarakat pada umumnya dan keluarga pada khususnya, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mendorong terwujudnya konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman, serta memperoleh kesehatan yang baik.

Untuk diketahui, untuk mewakili Provinsi Banten dalam mengikuti lcm B2SA berbasis sumber daya lokal tingkat nasional  di pontianak tahun 2017 diwakili oleh TP PKK Kota Cilegon sebagai juara 1 pada tahun 2016.  Dan untuk pemenang ke 1 tahun 2017 akan diikutsertakan dalam lomba lcm B2SA berbasis sumber daya lokal ke tingkat nasional pada tahun 2018.

Sementara itu, Ketua TP PKK Provinsi Banten, Dra. Hj. Niniek Nuraini Halim mengatakan lcm B2SA mempunyai peran penting dalam melaksanakan kegiatan Pokja III PKK. Diantaranya, masalah pembinan ketahanan pangan  yang dapat dijadikan sebagai sarana yang tepat untuk bersama-sama menyatukan pandangan dan tekad dalam mewujudkan terselenggaranya peningkatan penganekaragaman konsumsi  pangan berbasis sumber daya lokal.

Menurutnya, bukanlah pekerjaan yang mudah untuk mewujudkan keberhasilan pembangunan ketahanan pangan dalam kondisi negara yang sedang melakukan penataan dengan permasalahan  yang komplek, karena secara substansi dan esensi hasil-hasil pembangunan ketahanan pangan membutuhkan waktu yang lama dan melibatkan semua  pihak baik pemerintah, swasta maupun masyarakat termasuk TP PKK yang merupakan lembaga yang dapat berperan dan mendorong OPD mitra kerja dalam hal ini Dinas  Ketahanan Pangan sebagai upaya mensosialisasikan gerakan mengkonsumsi pangan yang beragam bergizi seimbang dan aman (B2SA).

“Pemanfaatan umbi-umbian tingkat konsumsi di masyarakat masih rendah. Hal ini dipicu oleh persepsi yang berlaku umum yaitu ‘Belum makan kalau belum makan nasi’. Disamping itu sebagian masyarakat beranggapan kalau mengkonsumsi umbi-umbian, jagung  atau sagu dianggap Inferior (makanan orang miskin).” Kata Niniek Nuraini Halim.

Padahal sumbangan energi yang dihasilkan oleh kelompok umbi-umbian  tersebut, lanjut Niniek Nuraini Halim, setara dengan energi yang dihasilkan oleh nasi.  Sebagai perbandingan  1 porsi nasi  (100 Gram) setara Dengan 120 Gram singkong, atau 125 gram talas atau 150 gram sukun atau 135 gram ubi jalar kuning.

“Disamping itu agar tubuh menjadi sehat, aktif dan produkti   diperlukan juga bahan pangan sumber protein yang berasal dari hewani dan nabati, sumber vitamin dan mineral dari sayur-sayuran dan buah-buahan sehingga akan terpenuhi sesuai anjuran kecukupan gizi,” katanya.

Menurut Niniek Nuraini, dalam mempersiapkan menu makanan keluarga sehari-hari harus tersedia makanan pokok sebagai sumber zat tenaga (Sumber Karbohidrat) seperti beras, jagung dan umbi-umbian. Sumber zat pembangun yang berasal dari protein hewani  seperti ikan, unggas, daging, telur, dan protein nabati terdiri dari tahu, tempe dan kacang-kacangan, serta sumber zat pengatur yang berasal dari sayuran dan buah2an.

Namun dalam kenyataannya di masyarakat masih dijumpai  menu keluarga  yang tidak memenuhi kaidah B2SA, sehingga kebutuhan gizinya tidak terpenuhi, hal ini dapat berimbas terhadap status gizi balita.

“Di Provinsi Banten  masih  ditemukan balita yang mengalami masalah gizi diantarnya pendek (stunting), kurus, gizi kurang dan gizi buruk. Padahal kondisi ini tidak perlu terjadi karena potensi sumber pangan di Provinsi Banten cukup melimpah, tinggal bagaimana kita semua  memanfaatkannya,” kata Niniek Nuraini Halim.

Permasalahan-permasalahan tersebut menurutnya  dapat diatasi dengan memberikan pemahaman yang berkesinambungan, penyuluhan dan bimbingan teknis kepada kelompok masyarakat tentang pangan yang dapat dimanfaatkan yang terdapat di pekarangan, kebun, tegalan dan lainnya.

Keberhasilan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan sangat ditentukan oleh ketersediaan aneka ragam pangan dan perilaku konsumen dalam mengkonsumsi aneka ragam pangan. Efektifias percepatan penganekaragaman konsumsi pangan akan tercapai apabila upaya internalisasi didukung dan berjalan seiring dengan pengembangan bisnis pangan lokal.

Oleh karena itu program penganekaragaman konsumsi pangan di daerah perlu diselaraskan khususnya dalam pengembangan pertanian, perikanan dan industri pengolahan pangan guna memajukan perekonomian wilayah.

“Bahan pangan ini  semuanya ini cukup tersedia di wilayah kita, sehingga para ibu rumah tangga dapat memperoleh bahan pangan sesui dengan daya belinya masing – masing,” katanya.

Sebenarnya bila ada keinginan yang kuat saat ini terdapat program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) yang dapat dilakukan oleh para ibu atau masyarakat untuk memanfaatkan lahan pekarangan. Pekarangan adalah sebidang tanah disekitar rumah yang mudah diusahakan dengan tujuan untuk meningkatkan pemenuhan gizi mikro melalui perbaikan menu keluarga.

Pekarangan dapat diberdayakan untuk berbagai komoditas (tanaman, ternak dan ikan) serta dapat dilakukan secara terpadu mulai dari tanaman buah, sayuran, tanaman obat-obatan,tanaman perkebunan,  pemeliharaan ternak dan ikan.

Dengan program KRPL maka keuntungan yang dapat diperoleh adalah menjadikan Sebagai lumbung hidup, warung hidup, apotek hidup, estetika dan sebagai sumber gizi keluarga.

Salah satu bentuk sosialisasi dan promosi yang rutin dilaksanakan adalah Lomba Cipta Menu Beragam Bergizi Seimbang dan Aman (LCM-B2SA) yang merupakan salah satu ajang tahunan yang digelar untuk mendukung upaya percepatan penganekaragaman konsumsi pangan (P2KP). LCM-B2SA dimaksudkan sebagai bentuk sosialisasi dan peningkatan pemahaman atas pentingnya diversifikasi konsumsi pangan melalui kompetisi penciptaan menu B2SA berbasis sumber daya lokal, mulai dari tingkat kabupaten/kota, provinsi dan tingkat nasional.

Harapan kita semua bahwa program percepatan penganekaragaman di Provinsi Banten dapat membantu mengurangi ketergantungan pada beras dan terigu sehingga masyarakat akan lebih membudayakan dalam menyediakan dan mengkonsumsi pangan lokal berbasis  sumber karbohidrat lainnya,  sumber protein, vitamin dan mineral dalam kehidupan sehari-hari.

“Melalui kegiatan ini diharapkan penerapan prinsip B2SA tidak terbatas pada lomba saja, tetapi dapat diaplikasian dalam konsumsi sehari-hari,” pintanya.

Untuk itu Niniek Nuraini mengajak kepada para pengurus dan anggota PKK untuk aktif dalam mensosialisasikan kepada masyarakat tentang gerakan mengkonsumsi makanan yang beragam, bergizi seimbang dan aman (B2SA) secara berkesinambungan, agar masyarakat kita tetap terpenuhi kebutuhannya gizinya sehingga kejadian kekurangan gizi pada balita dapat diturunkan begitu pula dengan anggota keluarga lainnya tetap sehat dan produktif.

“Mari kita sosialisasikan gerakan mengkonsumsi makan yang beragam, bergizi seimbang dan aman (B2SA) secara berkesinambungan. Disamping itu TP PKK tentunya membutuhkan dukungan dari para pimpinan OPD terkait,” harapnya. (Advertorial)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen − 6 =