Penataan Banten Lama Sebagai Upaya “Mengembalikan” Kejayaan Kesultanan Banten

KLIK BANTEN | Kawasan Cagar Budaya Banten Lama yang merupakan peninggalan kesultanan Banten ditetapkan sebagai kawasan strategis Kota Serang dan Provinsi Banten berdasarkan RTRW Kota Serang dan RTRW Provinsi Banten. Sebagai kawasan cagar budaya yang dilindungi Undang-undang Nomor 11 tahun 2010, pengelolaan kawasan ini memerlukan perencanaan khusus dengan mengutamakan pelindungan sebelum pengembangan dan pemanfaatan untuk sebesar-besar kesejahteraan rakyat.

Berdasarkan UU 11/2010, kawasan Banten Lama memenuhi kriteria sebagai kawasan cagar budaya, sehingga pengelolaannya secara khusus harus mengikuti kaidah pengelolaan cagar budaya yang mendahulukan prinsip pelestarian, perlindungan, sebelum melangkah ke tahap pengembangan dan pemanfaatan.

Menurut Ir Joko Sutrisno Kepala BAPPEDA Kota Serang Mengatakan, ada beberapa perkembangan penataan kawasan Banten lama di Kota Serang yaitu, Pada tahun 2015 bahwa kondisi kawasan Banten Lama, terutama di sekitar situs Masjid Agung Banten dan Keraton Surosowan sangat memprihatinkan, hingga terekspos oleh media. Kondisi ini merupakan puncak dari kondisi yang sama bertahun-tahun sebelumnya. Adanya UU 11/2010 sebagai peraturan perundangan terbaru tentang cagar budaya mendorong Pemerintah Kota Serang melakukan langkah menyusun perencanaan guna penataan Kawasan Banten Lama. “Sebagai langkah awal, Pemerintah Kota Serang melalui Bappeda menyusun kajian Dokumen Kompilasi Penataan Kawasan dan Lingkungan Banten Lama bekerja sama dengan Universitas Indonesia (UI) untuk mengkompilasi berbagai dokumen perencanaan yang pernah disusun berbagai instansi tentang rencana penataan Banten Lama. Kesimpulan dari kajian ini merekomendasikan penyusunan 5 (lima) kajian dasar untuk penataan Banten Lama,”ungkapnya.

Kajian tersebut lanjut Joko yaitu,  perrtama, Kajian penataan batas cagar budaya (kepurbakalaan) untuk kepentingan pelestarian dan pengelolaan Banten Lama, kedua Kajian potensi kepurbakalaan, ketiga Kajian AMDAL Banten lama, keempat Kajian perencanaan revitalisasi dan  adaptasi Banten Lama, kelima Kajian Feasibility Study (FS) lahan penunjang di kawasan Banten Lama, untuk memperoleh lahan baru yang akan dimanfaatkan sebagai zona penunjang kawasan cagar budaya Banten Lama. Kemudian Pada tahun 2016, Pemerintah Kota Serang dengan dukungan Pemerintah Provinsi Banten melakukan penataan Banten Lama, yang terdiri dari pembangunan fisik diantaranya rehabilitasi pedestrian, rehabilitasi jalan lingkungan, pembangunan PJU, penyediaan sarana air bersih, pembangunan gerbang kawasan, penghijauan, pembuatan papan narasi objek wisata dan pembangunan non fisik.  Bappeda bekerja sama dengan UI menyusun 4 (empat) kajian dasar, dengan output sebagai berikut: Kajian penataan batas cagar budaya (kepurbakalaan) untuk kepentingan pelestarian dan pengelolaan Banten Lama, Kajian potensi kepurbakalaan (menjadi penunjang hasil kajian penataan batas-batas cagar budaya), Kajian perencanaan revitalisasi dan adaptasi banten lama dan Kajian AMDAL Banten Lama.

Dikatakan Joko, OPD Disporapar Kota Serang yang membidangi urusan pariwisata bekerja sama dengan UI  menyusun Feasibility study (FS) lahan untuk zona penunjang kawasan. Output dari kajian FS ini adalah kelayakan lahan di Kebalen seluas ± 7,7 ha sebagai lahan yang akan dimanfaatkan sebagai penunjang wisata Banten lama. “Penyusunan FS merupakan amanat dari Undang-undang Nomor 2 tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum. Setelah FS tersusun, Disporapar dapat memulai proses pembebasan lahan Kebalen. “Kajian Penataan Batas-batas Cagar Budaya (Kepurbakalaan) dan didukung Kajian Potensi Kepurbakalaan merupakan aktivitas untuk mengetahui keberadaaan struktur benda kepurbakalaan dan sebaran struktur benda tersebut, yang kemudian dilakukan delineasi dan sehingga menghasilkan peta zonasi . Zonasi tersebut meliputi zona inti, zona penyangga, zona pengembangan dan zona penunjang.” Katanya.

                                                 Peta Zonasi Cagar Budaya

Perencanaan Penataan Banten lama dikelompokkan ke dalam jangka mendesak, jangka menengah dan jangka panjang. Perencanaan Penataan mengacu pada peta zonasi dimaksud. Perencanaan penataan yang sifatnya mendesak adalah merelokasi aktivitas pedagang yang saat ini menempati zona inti yang tidak sesuai dengan upaya perlindungan, jumlah pedagang cenderung semakin banyak dan lokasinya semakin dekat ke Masjid Agung. Untuk dapat merelokasi kegiatan tersebut  diperlukan ruang  yang dapat ditempati para pedagang. Sebagaimana amanat UU 11/2010 kegiatan pedagang diarahkan pada zona pengembangan, sehingga telah ditetapkan ruang yang termasuk dalam  zona pengembangan yang selanjutnya disebut sebagai Kawasan Penunjang Wisata (KPW). KPW diproyeksikan untuk menampung seluruh aktivitas yang ditujukan untuk keperluan wisata, yaitu : aktivitas pedagang makanan/cindera mata, lokasi parkir, lokasi gedung informasi wisata, lokasi gedung pertunjukkan kesenian, lokasi musholla, lokasi toilet, ruang terbuka, taman bermain anak, replika/miniatur kraton surosowan, restauran, hotel dan fasilitas penunjang wisata lainnya.

Perencanaan Blok Plan Kawasan Banten Lama

Sumber: Kajian Perencanaan Revitalisasi dan Adaptasi Banten Lama, Bappeda-UI, 2016

Visualisasi Perencanaan Masjid Agung dan Alun-alun

Sumber: Kajian Perencanaan Revitalisasi dan Adaptasi Banten Lama, Bappeda-UI, 2016

Menurut Joko, Kemudian Pada tahun 2017 ini, bertepatan dengan 10 tahun Kota Serang, penataan banten lama lebih banyak diarahkan ke pembangunan fisik. Diawali dengan lanjutan program tahun 2016 berupa pembayaran pembebasan lahan kawasan penunjang wisata (KPW) banten lama yang telah dibebaskan ± 4,5 ha, diikuti penyusunan siteplan KPW, pematangan lahan dan pembangunan kios serta toilet dalam KPW. Bappeda pun menyusun kajian desain rekontruksi Surosowan yang akan menjadi dasar desain pembangunan miniatur keraton Surosowan (akan dibangun di dalam KPW), dan kajian potensi kepurbakalaan di sekitar Benteng Speelwijk dan Vihara Avalokittesvhara yang bertujuan mengeksplorasi potensi kepurbakalaan berupa benteng zigzag yang diperkirakan ada di sekitar situs tersebut.

Site Plan Kawasan Penunjang Wisata (KPW)

Dalam kajian Perencanaan Revitalisasi dan Adaptasi Banten Lama (2015), direkomendasikan perencanaan jangka pendek, menengah dan panjang. Perencanaan jangka pendek merupakan perencanaan untuk kegiatan pembangunan yang bersifat mendesak dan penting, yaitu pembangunan blok plan I, termasuk KPW, sekitar situs Masjid Agung, dan Keraton Surosowan.  Pembangunan jangka menengah dan panjang di antaranya : Penataan blok plan II, III, dan IV, Revitalisasi kanal Surosowan, Pembangunan danau retensi di utara, berdekatan dengan teluk Banten, Danau retensi bertujuan untuk menjaga kestabilan muka air, sehingga kawasan cagar budaya banten terhindar dari banjir rob, Pembangunan amphitheater, Penyediaan/pembuatan kapal tiruan VOC/kapal kesultanan Banten dan Pendaftaran KCB banten Lama sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.  Pada tanggal 21 Juli 2017, Pemerintah Provinsi Banten, Pemerintah Kota Serang dan Pemerintah Kabupaten Serang menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) untuk Revitalisasi Banten Lama.

Hal ini memperkuat kerjasama dan koordinasi di antara masing-masing instansi sehingga dapat mempermudah pelaksanaan program-program dan kegiatan penataan Banten Lama. Dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan fisik maupun non fisik, diperlukan koordinasi intensif supaya pelaksanaan sesuai dengan perencanaan, sehingga keluaran dan hasil yang diperoleh dapat bermanfaat bagi rakyat.  Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Serang merupakan satuan kerja dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, secara hierarki berada di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman.

Wilayah Kerja BPCB Serang meliputi 4 (empat) provinsi, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten dan Lampung. Sejak tahun 2015, Pemerintah Kota Serang telah berkoordinasi secara intensif dengan BPCB Serang, ketika penyusunan berbagai kajian tentang Banten Lama. Selain itu, pihak Pemerintah Kota Serang selalu berkoordinasi dengan BPCB ketika akan memulai suatu pembangunan fisik di dalam kawasan cagar budaya. Apabila di lapangan menemukan benda/struktur yang diduga sebagai cagar budaya, Pemerintah Kota Serang langsung berkoordinasi dengan BPCB, kemudian BPCB akan menurunkan tim ke lapangan untuk mengobservasi dan memberikan status terhadap temuan tersebut. Pemerintah, khususnya Pemerintah Kota Serang, berkomitmen kuat untuk melakukan penataan KCB Banten Lama, karena penataan kawasan dan pengelolaan yang baik akan menarik jumlah wisatawan ke Banten Lama. Masyarakat pun dapat diberdayakan dalam pengelolaan KCB sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kawasan Cagar Budaya Banten Lama merupakan satu-satunya peninggalan kerajaan Islam nusantara yang masih lengkap, sehingga berpotensi menjadi Warisan Budaya Dunia. Apabila perencanaan jangka panjang ini dapat terlaksana, potensi pariwisata dan event-event skala internasional pun dapat digelar, seperti Tour d’Banten, Sail Banten, Banten Marathon dan lain-lain.Pemberdayaan masyarakat dapat berbentuk pelatihan skill kewirausahaan, pemandu wisata, penyediaan home stay, dan UMKM. Penataan kawasan Banten lama telah dimulai, dan membutuhkan dukungan moril maupun materiil dari semua pihak. Sudah saatnya kita bangkit bersama memikirkan Banten Lama yang lebih baik. Sejatinya, kita kesampingkan kepentingan dan ego pribadi demi kepentingan bersama, demi kesejahteraan masyarakat, demi anak cucu kita supaya dapat menikmati dan menyadari bahwa Banten pernah berjaya dan disegani dunia di masa lalu. (ADVERTORIAL)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one × 1 =