Dana BOS’ untuk ‘BOS’ 

Kata “BOS” sering kita dengar dalam bahasa sehari-hari. Kata ini erat kaitanya dengan pemimpin “geng” atau kelompok preman. Bahkan dalam dunia pendidikan kita juga menemukan kata “BOS” tentu dengan kegunaan yang berbeda namun, prilaku ada kesamaan.

Berbeda ketika kata “BOS” digunakan untuk penyaluran biaya pendidikan yang disebut dengan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Sama, ketika penyaluran dana BOS bagaikan perilaku preman oleh elite pendidikan.

‘BOS’ dalam konteks kegiatan premanisme terkesan sangat “buas” dan militan untuk mempertahankan kelompoknya. Peran ‘BOS’ sangat mempengaruhi kuat tidaknya kelompok tersebut. Perintah ‘BOS’ kepada anggotanya sering kali dijawab dengan lantang “siap BOS”, “ok BOS”, “laksanakan BOS”, bak angkatan.

Bahkan militansi anggota terhadap ‘BOS’ menjadi sesuatu yang perlu di apresiasi. Konteks apresiasinya adalah komitmen, dedikasi, dan semangatnya. Sesuatu yang menarik lagi dari ‘BOS’ di pasaran adalah “budaya setor”.

Praktek “budaya setor” dan “potong atas” yang dilakukan preman seperti contoh diatas ternyata telah masuk ke ranah dunia pendidikan kita. Menyedihkan,  pihak dinas yang disebut pengawas atau tim audit berubah fungsi menjadi ‘BOS’ bagi kepala sekolah dan kepala sekolah menjadi ‘BOS’ di sekolahnya dan bagi para guru.

Sehingga bila dikaitkan dengan ‘BOS’ para kelompok preman di terminal maka pihak dinas dan kepala sekolah menjadi ‘BOS’ yang salah tempat. Inilah contoh para elite pendidikan kita yang telah menjadi ‘BOS’, bukan lagi pengayom sebagaimana tugas mulia guru.

Sistem bagi hasil seakan menyatakan berbagi dan tidak pelit, tidak merasa berdosa pula padahal praktek kecurangan sudah mulus dilakukan. Jawaban yang sering kita dengar adalah “sudah biasa seperti itu, gak usah munafiklah”.

Dengan demikian dana BOS tidak lagi tepat guna, padahal tahun tahun terakhir ini besaran dana BOS dinaikan  dengan harapan mendongkrak mutu pendidikan di negeri ini.

Praktek curang dan tindakan korupsi mengkorupsi dalam penyaluran dana BOS menjadi hambatan yang utama untuk mencapai tujuan mulia pendidikan kita. Pendidikan murah dan berkualitas pun semakin jauh kita capai.

Oleh : Bonaventura S

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 + 18 =